jump to navigation

Ceritalara – Memoir Duka Seorang Dai’e March 16, 2009

Posted by ibnukhair in Puitis.
Tags: , ,
trackback

Coretan pilu seorang dai’e. Menyaksikan ratusan manusia naif  yang bakal menyambung rantaian ini tanpa ada kelibat diri berkongsi kasih adalah hakikat yang amat memeritkan. Apatahlagi, memaksa diri duduk memutar tetikus dari petah bicara mengesani kehidupan mereka merupakan satu kerugian buat diri yang hina ini. Hati berontakan. Namun, pasrah dan redha dek rencana Tuhan pasti ada hikmahnya. Mungkinnya ada satu ibrah yang ingin Allah ajari.

Sajak di pagi dinihari, ilustrasi diri yang mendambakan pertolongan Rabbul azim tika kerongkong memaku enggan untuk mengalah.

 

Pilu seorang dai’e

Ting ting ting
Detingan 3 pagi itu memeritkan,

Sesekali kutekan halkum,
Air suam mengalir perlahan,
Menyapa si anak tekak,
Mohonku agar ada suatu yang positif, barangkali…

Ting ting ting
Detingan 3 pagi itu menyedihkan,

 Hello.. hello.. helloo..
Allahu akbar!
Kotak suara masih enggan mengalah,
Tertutup rapat,
Sesekali terdengar bisik garau,
Doaku agar ianya semakin membaik, barangkali…

Ting ting ting
Detingan 3 pagi itu memilukan,

Terkenang aku kan as-Syahid Syeikh Ahmad Yassin,
Tubuh lemah tidak berdaya itu,
Daya juangnya tiada bertepi,
Sosok kelibat yang didamba,
Lalunya mengundang semangat,
Bicaranya meniup jihad.
Sesaat menyanggah si anak muda ke tengah jalan,
Mengutip kerikil dan bebatuan,
Buat hadiah si Yahudi laknatullah…

Namun Aku??

Tubuh berdiri gah,
Namun bicara hilang upaya,
Ah, bagaimana?
Dewan itu ketagih laungan hujah! 

Dalam diam,
Tangan masih mengenggam erat lipatan nota,
Sambil sesekali mengerling ke komputer riba,
Hati jauh mengharap,
Akan kembalikah nikmat Allah yang satu ini,
Buat menggegar jiwa pemuda pemudi,
Menuai izzah memacu amal,
DI tanah subur Kuala Sungai Baru itu,

Pilu,
Dan aku malu,
Kerna cuaiku …

Kini kuhanya mampu pasrah,
Doaku agar kalian beroleh hidayah,
Semangat muda berkobar,
Janjimu, api perjuangan takkan pernah pudar,
Kita pasti lihat, panji Islam kan menjulang berkibar…

Oh KTIAMku,
Salam kemaafan,
Datangku hari ini,
Mengundang tanya,
Diam seribu bahasa,
Rencana Allah melangkaui usahaku..

Sungguhpun begitu..
Kuazamkan diri tuk datang kembali….
Muga diiring izin Ilahi.

 

Memoir,                                     

AbuSafiyyah,
 3:25 am,
BaitusSafiyyah
“Silence is not an option!”
Sajak khas buat KTIAM – “Taklimat dan Pendedahan Usrah”

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: